Nama : Haris Eko Saputro
Kelas : 5J
Npm : 12 141 368
Prodi : PGSD
Instansi : IKIP PGRI MADIUN
Baru baru ini banyak yang sedang membicarakan revolusi mental terutama Revolusi Mental Melalui Pendidikan. Seiring dengan slogan Presiden Joko Widodo: Revolusi Mental.
Kelas : 5J
Npm : 12 141 368
Prodi : PGSD
Instansi : IKIP PGRI MADIUN
Baru baru ini banyak yang sedang membicarakan revolusi mental terutama Revolusi Mental Melalui Pendidikan. Seiring dengan slogan Presiden Joko Widodo: Revolusi Mental.
Revolusi mental memang bisa dimulai lewat bidang pendidikan. Dan, di sanalah guru memegang perannya. Banyak ahli meyakini bahwa dengan mengaitkan guru dengan persoalan yang ada dapat menyelesaikan lebih dari separo masalah pendidikan di Indonesia. Namun, siapa yang bisa menjamin revolusi mental itu akan berhasil dan tidak menjadi revolusi yang mental di tengah jalan? Guru punya banyak tantangan dalam melaksanakan tugas. Lalu, apakah semua guru menyadari peran itu? Yang lebih penting, bersediakah mereka melakukan revolusi mental mulai diri sendiri?
Banyak tantangan bagi guru. Guru diharapkan mentransformasikan pengetahuan, sikap, serta keterampilan kepada murid agar mereka mampu menjawab tantangan zaman ke depan. Salah satunya menjadi sumber sejati ilmu dan pendamping perangkat teknologi. Perangkat era multimedia itu kerap dipersepsikan anak sebagai pengganti fakta-fakta dalam belajar.
Mereka bisa memperoleh segala informasi dengan sangat instan. Bagaimana, misalnya, siswa menyusun tugas-tugas sekolah cukup dengan ponsel pintar. Contohnya, tugas bertopik kelautan tentang nelayan. Mereka hampir pasti mampu menjawab detail tentang deskripsi pekerjaan, paparan tentang jenis-jenis perairan, dan ikan tangkapan. Termasuk, narasi proses penjualan ikan di pasar hingga ke pabrik pengolahan. Cukup unduh dari internet. Siswa-siswa mungkin matang secara pengetahuan. Namun, kematangan itu terasa kurang Ada yang hilang dari proses belajar berbekal ponsel pintar tersebut Siswa tidak mempunyai pengalaman itu sendiri, pengalaman itu berupa menemukan sendiri materi belajar. Profesi guru bukanlah pekerjaan biasa. Sosok mulia guru selalu dituntut memiliki empat kompetensi. Yaitu, kompetensi profesional, sosial, personal, dan pedagogis. Mengapa? Sebab, seorang pendidik menjalankan banyak fungsi sekaligus. Guru ibarat seorang perajin. Dia wajib punya gambaran yang jelas tentang apa yang harus dilakukan sekaligus bagaimana melaksanakannya. Kehati-hatian sangat penting karena tugas guru berkaitan dengan anak manusia. Sekali salah dalam mendidik, akibatnya bisa fatal.
Di sisi lain, pendidik juga seorang seniman yang perlu mampu menjiwai karakter anak didiknya secara mendalam, detail, dan individual. Karena itulah, misalnya, seorang guru musik mungkin saja tidak cukup diisi hanya oleh seorang artis atau komposer. Guru yang bermutu biasanya lahir dari lembaga pencetak guru, lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar